Menjelang euforia Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), Lintasarta mengambil langkah proaktif untuk menjamin ketangguhan infrastruktur digital nasional di tengah lonjakan mobilitas dan aktivitas ekonomi.
Sebagai AI Factory dari Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) Group sekaligus penyedia solusi ICT terintegrasi, Lintasarta telah menyiagakan jaringan backbone, sistem cloud, hingga benteng keamanan siber yang solid.
Langkah ini krusial untuk menopang operasional lebih dari 2.300 pelanggan korporasi dari berbagai sektor strategis agar layanan digital mereka tetap berjalan mulus tanpa kendala di periode tersibuk sepanjang tahun.
Momentum akhir tahun memang selalu menjadi tantangan tersendiri dengan adanya lonjakan trafik data yang signifikan, terutama pada sektor perbankan, logistik, hingga layanan publik.
Berkaca pada periode Nataru sebelumnya yang mencatat kenaikan trafik internet pelanggan industri hingga 111%, tren serupa diprediksi akan kembali berulang seiring semakin tingginya ketergantungan pada sistem yang bersifat mission-critical.
Zulfi Hadi, selaku Director & Chief Telco Services Officer Lintasarta, menegaskan bahwa fenomena ini bukan sekadar tantangan teknis biasa, melainkan menyangkut stabilitas ekonomi nasional, sehingga keandalan layanan menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar.
“Lonjakan trafik diakhir tahun bukan sekadar tantangan teknis, tetapi menyangkut stabilitas layanan publik dan kelangsungan aktivitas ekonomi nasional. Karena itu kesiapan infrastruktur dan keandalan layanan menjadi prioritas utama kami,” ujarnya.
Guna menghadapi dinamika tersebut, Lintasarta mengusung strategi komprehensif melalui empat pilar utama atau “4C”, yakni Connectivity, Cloud, Cybersecurity, dan Collaboration.
Di tengah masifnya transaksi keuangan digital seperti BI-Fast dan uang elektronik saat libur panjang, pilar Connectivity menjadi perhatian utama dengan penyediaan bandwidth tinggi serta latensi rendah demi menjamin transaksi real-time.
Kekuatan konektivitas ini kemudian diperhebat dengan pilar Cloud yang fleksibel, proteksi Cyber Security yang ketat untuk menjaga data sensitif, serta kolaborasi solusi digital yang memastikan ekosistem bisnis tetap berkelanjutan dan aman.
Aspek operasional pun tak luput dari pengawasan ketat melalui pengoperasian Network Operations Center (NOC) yang bersiaga penuh selama 24 jam setiap harinya. Dukungan ini mencakup pemantauan real-time, ketersediaan suku cadang cadangan, hingga manajemen operasi yang didukung oleh sistem redundansi tinggi.
Dengan tim engineer lapangan yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia serta sistem eskalasi yang responsif, Lintasarta berkomitmen penuh untuk memberikan rasa aman bagi para pelaku industri bahwa jaringan mereka tetap dalam performa puncak meski di bawah tekanan trafik yang tinggi.
Kesiapan menyeluruh ini merupakan bukti nyata dari komitmen jangka panjang Lintasarta untuk menjadi mitra transformasi digital yang paling dapat diandalkan. Peran perusahaan melampaui sekadar menjaga jaringan tetap menyala, melainkan memastikan denyut nadi ekonomi digital Indonesia terus berdetak kencang di momen-momen krusial.
Melalui integrasi infrastruktur yang canggih dan pengawasan yang tak terputus, Lintasarta memastikan bahwa transisi menuju tahun 2026 dapat dilalui dengan kontinuitas layanan yang terjaga, memberikan dampak positif langsung bagi kemajuan ekonomi nasional yang aman dan berkelanjutan.