OpenAI kini tengah membuka perburuan besar-besaran untuk posisi Kepala Kesiapsiagaan (Head of Preparedness) demi mengantisipasi potensi bahaya serta penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan mereka.
Langkah strategis ini diambil sebagai upaya nyata perusahaan dalam merumuskan benteng keselamatan yang lebih kokoh bagi para penggunanya di seluruh dunia.
Keputusan ini muncul tepat setelah OpenAI melewati tahun yang penuh gejolak, di mana perusahaan dihujani berbagai tuduhan serius mengenai dampak negatif ChatGPT terhadap kesehatan mental, bahkan hingga menghadapi gugatan hukum terkait kasus kematian yang tragis.
Dikutip dari Engadget, Senin (29/12/2025), CEO OpenAI, Sam Altman, melalui unggahannya di platform X secara terbuka mengakui bahwa dampak model AI terhadap kesehatan mental menjadi salah satu tantangan paling nyata yang mereka hadapi sepanjang tahun 2025.
Seiring dengan kemampuan model yang semakin canggih, muncul pula risiko-risiko kompleks yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Oleh karena itu, posisi Kepala Kesiapsiagaan ini dianggap sebagai peran vital di momen yang sangat krusial bagi masa depan pengembangan AI yang etis dan aman bagi kemanusiaan.
Berdasarkan rincian lowongan kerja tersebut, posisi ini menawarkan kompensasi yang sangat fantastis, yakni gaji pokok sebesar $555.000 atau sekitar Rp8,7 miliar per tahun, belum termasuk paket saham perusahaan.
Sang pimpinan baru nantinya akan mengomandani strategi teknis serta pelaksanaan kerangka kerja kesiapsiagaan OpenAI guna melacak dan memitigasi kemampuan mutakhir AI yang berpotensi memicu risiko bahaya serius.
Namun, Altman memberikan peringatan keras bahwa pekerjaan ini akan sangat penuh tekanan dan sang kandidat terpilih harus siap untuk langsung terjun ke dalam situasi yang sulit dan penuh tantangan teknis.
Pencarian pimpinan baru ini juga dilakukan di tengah dinamika internal tim keamanan OpenAI yang sempat mengalami bongkar pasang selama beberapa tahun terakhir.
Sebelumnya, posisi vital tersebut dipegang oleh Aleksander Madry yang dipindahtugaskan pada pertengahan 2024, sebelum akhirnya estafet kepemimpinan sempat beralih ke tangan eksekutif lain seperti Joaquin Quinonero Candela dan Lilian Weng.
Namun, pengunduran diri Weng dan perpindahan tugas Quinonero Candela pada Juli 2025 membuat posisi ini kosong, sehingga memaksa OpenAI untuk mencari sosok tangguh baru yang mampu menstabilkan navigasi keamanan perusahaan di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan.
Sebagai informasi, langkah OpenAI untuk berburu talenta papan atas memang bukan hal baru, melainkan sudah menjadi bagian dari DNA mereka untuk mendominasi industri teknologi global.
Dengan menawarkan kompensasi yang menembus angka miliaran rupiah beserta paket saham yang menggiurkan, OpenAI berhasil memikat para ahli dari perusahaan raksasa seperti Google, Meta, hingga Tesla.
Strategi “borong talenta” ini dilakukan bukan sekadar untuk adu gengsi, melainkan sebagai upaya untuk memastikan bahwa setiap lini pengembangan AI mereka, mulai dari riset teknis hingga kebijakan keamanan, dipegang oleh orang-orang paling kompeten di bidangnya.