Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) menegaskan bahwa strategi pencegahan stunting dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia harus dimulai dari keluarga. Fokus utama ditempatkan pada periode emas 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu sejak janin hingga anak berusia dua tahun.
Hal ini disampaikan dalam kegiatan sosialisasi Program Bangga Kencana di Kabupaten Bandung, Minggu (14/12/2025), yang menghadirkan narasumber dari Kemendukbangga, DPR RI, dan Pemerintah Daerah.
“Pencegahan stunting harus dimulai dari kesehatan ibu dan ayah, serta pemenuhan gizi yang optimal, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan yang sangat menentukan kualitas tumbuh kembang anak,” tegas Dr. Wahidin, Deputi Bidang Bina Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi Kemendukbangga.
Dr. Wahidin menjelaskan bahwa transformasi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menjadi Kemendukbangga membawa perubahan mendasar.
Kementerian ini kini tidak hanya fokus pada program Keluarga Berencana (KB), tetapi mengelola seluruh siklus hidup manusia, mulai dari calon pengantin hingga lanjut usia.
Salah satu program baru yang digaungkan adalah “Program 21–25”, yang merekomendasikan usia ideal pernikahan dan kelahiran anak. “Usia di bawah rentang tersebut secara biologis dan mental belum siap untuk membangun keluarga dan memiliki anak,” ujar Dr. Wahidin.
Meski demikian, aspek pengendalian penduduk melalui penggunaan alat dan obat kontrasepsi (Alokon) tetap menjadi tugas utama. Irfan Haniful Qoyyim, Pejabat Kemendukbangga Jawa Barat, menekankan pentingnya peran ayah dalam program KB, seperti penggunaan kondom dan vasektomi, serta mengingatkan masyarakat untuk menghindari “5T” (terlalu muda, tua, dekat, banyak, dan sering hamil).
Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Komisi IX DPR RI. “Pada prinsipnya, kami di Komisi IX mendukung kegiatan yang berorientasi pada peningkatan kualitas SDM. Tentunya dukungan ini harus dibarengi dengan pengawasan,” ujar H. Asep Romy Romaya, Anggota Komisi IX DPR RI.
Di tingkat daerah, H. Muhamada Hairun, Kepala Dinas P2KBP3A Kabupaten Bandung, menyoroti pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak, yang diwujudkan melalui inisiatif “Gerakan Ayah Mengambil Rapor”. Namun, ia juga mengungkap tantangan serius terkait angka kematian ibu hamil.
“Salah satu penyebabnya adalah kendala rujukan dari rumah ke fasilitas kesehatan. Oleh karena itu, diperlukan penanganan serius dalam pengurusan jalur rujukan agar ibu hamil mendapatkan pelayanan kesehatan yang cepat dan tepat,” jelas Hairun.
Dengan pendekatan yang lebih holistik dari hulu ke hilir, Kemendukbangga berupaya memperkuat sinergi antar-pemangku kepentingan untuk membangun keluarga berkualitas sebagai fondasi SDM Indonesia yang unggul dan berdaya saing.